Pandemi global COVID-19 membuat semua orang harus menghadapi keadaan darurat. Bahkan negara dengan sistem kesehatan terbaik seperti, Tiongkok, Italia, Inggris dan Perancis tidak luput dari krisis kesehatan yang diakibatkan COVID-19. Banyak negara yang menghadapi pandemi ini harus mengambil langkah social distancing bahkan melakukan lockdown.

COVID-19 tidak hanya mengancam kesehatan manusia, namun secara tidak langsung juga membuat goncangan hebat dalam ekonomi dunia. Dengan adanya sistem social distancing dan lockdown negara-negara harus menghadapi kerugian dalam jumlah besar dan akan terus bertambah tiap harinya. Perusahaan harus belajar beradaptasi bahkan menggunakan celah terkecil.

Karena social distancing ini juga, customer behavior atau perilaku pelanggan ikut berubah drastis. Customer behavior yang berubah ini akan menjadi masalah besar dalam keadaan sekarang.

Social Distancing dan Lockdown: Merubah Customer Behaviour

Secara sederhana social distancing merupakan salah satu cara pencegahan penyebaran COVID-19 dengan mengurangi penularan virus dengan menjaga jarak dengan orang lain dan menghindari keramaian.

Seperti yang disampaikan WHO, COVID-19 meskipun tidak menular melalui udara, tapi paling tidak virus yang keluar saat bersin atau batuk akan ada dalam radius 1 meter dalam waktu singkat. Memperhatikan hal tadi kita minimal menjaga jarak lebih dari 1 meter dari orang lain. 

Cara ini tidak hanya mencegah kita tertular COVID-19 tapi juga mencegah carrier untuk menularkan virus kepada orang lain disekitarnya. Bahkan pemerintah di banyak negara, termasuk Indonesia, sudah menghimbau bahkan tegas untuk belajar, bekerja, dan ibadah di rumah. Banyak kegiatan umum seperti seminar, konser, lomba atau kegiatan lain yang melibatkan banyak orang telah ditunda karena memperhatikan social distancing.

Social distancing masih memungkinkan orang melakukan kegiatan seperti makan di mall, membeli bahan makanan, atau pergi ke wilayah lain, meskipun wilayah tersebut ada kasus positif COVID-19.

Lockdown atau harfiahnya adalah mengunci atau mengisolasi, sangat berbeda dengan social distancing. Lockdown dilakukan dibawah keputusan pemerintah untuk menutup dan mengkarantina suatu wilayah yang menjadikan keluar atau masuk kedalam wilayah itu tidak mungkin dilakukan.

Wuhan contohnya, sebagai tempat yang melakukan lockdown. Tidak ada manusia yang diperbolehkan secara bebas keluar atau masuk kesana. Kegiatan yang berlangsung di Wuhan sangat terbatas, bahkan melumpuhkan kegiatan bisnis. Hanya hal-hal krusial seperti apotek, rumah sakit, supermarket, SPBU, bank, dan layanan penting lainnya yang boleh beroperasi.

Perubahan Customer Behavior Selama COVID-19

COVID-19 make people do social distancing and must use chatbot to ease companies communication with their customers
Use your mask

Dengan diberlakukannya social distancing menumbuhkan kesadaran banyak orang untuk membatasi kegiatan diluar rumah. Karena itu kegiatan seperti jual beli secara fisik juga sangat minimal. Banyak perusahaan yang harus menekan keuangan mereka untuk menutupi kerugian karena sepi pelanggan.

Ada dua perubahan besar dalam kebiasaan membeli masyarakat (dunia) saat pandemik COVID-19.

1. Pembelian proaktif untuk kesehatan: Kenaikan kebutuhan atas produk kesehatan seperti masker dan hand sanitizer.

2. Persiapan hidup karantina: peningkatan pembelian keperluan sehari-hari dan masak terutama secara online.

Semua peningkatan pembelian yang terjadi dapat membuat ketegangan dalam rantai pasokan, seperti masker yang berkurang dan menyulitkan tenaga medis. Himbauan untuk tidak melakukan panic buying sudah ada dimana-mana. Selain sulitnya akses, ada kemungkinan kurangnya pasokan barang akan membatasi belanja masyarakat.

Ketika dihadapkan dengan batasan dalam berbelanja, masyarakat lebih mengadaptasi cara lain untuk berbelanja yaitu menggunakan teknologi.

Perubahan Customer Behaviour di Industri E-commerce dan Solusi Chatbot

Dampak besar sangat terasa di industri E-commerce. Disaat bisnis lain menurun karena tidak ada orang yang berani keluar, e-commerce menjadi pilihan untuk berbelanja. Banyak orang yang sebelumnya tidak pernah melakukan belanja online mulai mencoba berbelanja di toko online.

Pelanggan yang ada di E-commerce mendadak menjadi banyak bisa dibilang meledak. Jumlah penjualan online langsung meningkat drastis. Dengan peningkatan penjualan dan lead ini, banyak perusahaan yang harus membuat portal online untuk bisnisnya.

Karena lebih banyak bisnis yang bergeser masuk ke dalam bisnis e-commerce maka persaingan di dalamnya meningkat. Sekarang semua harus memiliki strategi dan rencana baru untuk bersaing, jadi bagaimana bisnis harus beradaptasi di persaingan yang ketat ini?

Langkah pertama adalah menganalisis perilaku konsumen. Seperti perubahan perilaku untuk belanja online sekarang. Selain itu interaksi personal dengan masing-masing pelanggan dan menjadikan mereka merasa spesial.

Menjadikan setiap karyawan memiliki pemikiran yang lebih inovatif sangat penting sekarang, karena itu yang membedakan bisnis satu dengan yang lain. Sekarang buat karyawan fokus untuk kerjaan yang penting akan membuat mereka lebih inovatif dan buat kerjaan berulang lebih sedikit. Automasi pekerjaan berulang dengan chatbot.

Chatbot e-commerce tidak hanya dapat meringankan pekerjaan dengan mengotomasi pekerjaan berulang seperti menjawab FAQ. Banyak fitur dari chatbot yang bisa kamu gunakan untuk melayani pelanggan, seperti menawarkan promo, menawarkan produk, membantu pembayaran, dan lain-lain. Yang lebih hebat lagi chatbot bisa menganalisa kebiasaan konsumen yang bisa jadi pertimbangan inovasi bisnis.

Perubahan Customer behaviour di Industri Makanan dan Solusi Chatbot

Industri makanan akan menghadapi tantangan yang jauh lebih menakutkan daripada industri lainnya. Meskipun kebutuhan dasar dan selalu ramai pembeli, namun dengan adanya social distancing dan lockdown keadaan bisnisnya menjadi lebih parah.

Ada banyak pengguna baru yang tidak fasih menggunakan portal online untuk berbelanja. Target pelanggan baru ini harus diakali dengan cerdik. Misalnya, berjualan lewat aplikasi perpesanan. Agar lebih baik gunakan Chatbot.

Dengan menggunakan chatbot, kamu akan membuat transaksi berulang seperti memesan makan menjadi lebih cepat dan mudah. Dengan sistem seperti mengobrol, memesan makanan akan mudah diadaptasi bahkan oleh orang-orang yang baru mencoba berbelanja online.

Perubahan Customer behaviour di Layanan Kesehatan dan Solusi Chatbot

Pandemik yang berlangsung sekarang, semua negara sangat bergantung dengan tenaga kesehatan dan alat medis. Kedua hal tadi jumlahnya menjadi terbatas dan menjadi masalah baru. Tidak hanya kekurangan untuk menangani COVID-19 namun juga kesulitan membantu orang-orang yang sedang melakukan social distancing atau lockdown.

Untuk meringankan pekerjaan tenaga kesehatan dan stafnya, kita dapat membuat chatbot.

Karena kondisi pandemik, banyak masyarakat yang menjadi panik dan ketakutan. Tenaga dan manajemen medis dapat sangat terbantu dengan chatbot. Chatbot dapat meringankan tugas untuk menjawab pertanyaan2 yang bersifat berulang. Bahkan dokter dan pasien dapat melakukan konsultasi langsung dengan fitur live chat yang memungkinkan berkonsultasi tanpa harus interaksi fisik.

Lembaga medis juga dapat memanfaatkan chatbot dan fitur broadcast untuk menyebarkan informasi terbaru tentang situasi sekarang. Sekarang lembaga kesehatan dapat berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat melawan COVID-19 dengan menjawab semua FAQ yang ada.

Buat chatbot untuk melawan COVID-19 atau jadi strategi baru bisnis Anda.