UMKM merupakan salah satu roda penggerak ekonomi Indonesia, bahkan salah satu sektor yang menjadi unggulan karena selalu tumbuh dan meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. 

Di masa perkembangan teknologi informasi yang pesat saat ini, upaya transformasi pada bentuk digital merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk membantu para pelaku UMKM untuk beradaptasi dan tetap bertahan di masa saat ini. 

Terlebih setelah masuknya revolusi industri 4.0, pemerintah berharap pelaku UMKM dapat bersaing pada skala besar dengan upaya transformasi digital pada bisnis UMKM meskipun nyatanya banyak kendala yang dihadapi oleh pelaku bisnis mikro dan menengah.

Lantas, apa saja yang menjadi kendala pelaku bisnis UMKM di era digital dan pandemi saat ini?

Kendala Digitalisasi

Hadirnya e-commerce seakan menjadi angin segar bagi pelaku UMKM di Indonesia, namun ternyata pada pelaksanaannya masih terdapat kendala dalam menjalankan upaya digitalisasi. Dikutip dari CNBC Indonesia, bahwa hanya terdapat 13% UMKM yang terhubung dengan online marketplace dan pasar digital. Masih banyak pelaku usaha yang belum berhasil melakukan digitalisasi pada bisnis mereka. Hal ini tentu saja disayangkan, mengingat Indonesia tengah mengupayakan adaptasi masyarakat terhadap revolusi industri 4.0.

Apa saja yang menjadi kendala bagi pelaku UMKM dalam menghadapi upaya digitalisasi?

ilustrasi bisnis UMKM digital
Foto oleh bongkarn thanyakij dari Pexels

Keamanan data digital

Kondisi tersebut nyatanya masih menjadi permasalahan bisnis digital saat ini, karena masih belum adanya regulasi dari pemerintah mengenai aturan keamanan data dan informasi digital. Terlebih sejak munculnya berbagai berita mengenai kebocoran data digital, masyarakat Indonesia dan juga berbagai bisnis kecil dan menengah yang terdaftar secara digital pun tentu merasa dirugikan sedangkan pemerintah pun masih belum sigap untuk menghadapi kondisi tersebut. 

Rendahnya literasi ekonomi digital

Ekonomi digital merupakan berbagai aktivitas ekonomi yang dilakukan pada platform digital. Namun faktanya adalah informasi mengenai teknologi ekonomi digital yang masih belum merata pada masyarakat. Salah satu syarat berhasilnya upaya digitalisasi ekonomi adalah tingginya literasi mengenai ekonomi digital guna meningkatkan tingkat transaksi serta berbagai aktivitas ekonomi digital.

Tantangan UMKM di masa pandemi

UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) merupakan salah satu yang secara langsung merasakan dampak negatif dari hadirnya pandemi di Indonesia. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari bisnis.com, pada tahun 2019, UMKM diperkirakan mampu menyumbang 65% dari produk domestik bruto (PDB) nasional atau sekitar Rp2.394,5 triliun.

Akibat dari kemunculan pandemi, dampak yang dirasakan oleh para pelaku bisnis kecil dan menengah dari berbagai sektor adalah bisnis tidak beroperasi secara maksimal, keberlangsungan mereka pun terancam.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh Katadata, hanya 5,9% bisnis kecil dan menengah yang mampu bertahan di tengah pandemi. Namun disisi lain, terdapat 82,9% pelaku usaha yang terkena dampak negatif pandemi. Bahkan 63,9% mengalami penurunan omzet hingga lebih dari 30%. Hal demikian tentu saja membuat para pelaku bisnis kecil dan menengah Indonesia semakin resah karena semakin lama pendapatan yang dihasilkan semakin menurun di masa pandemi.

Pelaku bisnis kecil dan menengah tentu berharap adanya solusi yang datang dari pemerintah guna mengatasi berbagai kendala yang dihadapi karena dampak pandemi. 

Seperti yang dilansir pada KPMG,  pemerintah telah merencanakan beberapa upaya guna menyelamatkan nasib UMKM Indonesia di masa pandemi. Salah satunya adalah hadirnya program pemulihan ekonomi sebesar Rp 150 triliun yang rencananya akan digelontorkan sebagai upaya perbaikan bagi debitur yang kesulitan membayar hutang. Rencana bantuan pemerintah ini bisa berupa pengurangan bunga, perpanjangan jangka waktu kredit, hingga mengubah hutang menjadi saham perusahaan.

Namun sayangnya pemberian pinjaman ini nyatanya masih belum tepat sasaran. Masih banyak UMKM yang belum terdaftar maupun paham akan mekanisme peminjaman tersebut.

contoh penggunaan chatbot untuk UMKM
Contoh penggunaan chatbot untuk UMKM

Peran Chatbot dalam perjuangan UMKM

Upaya transformasi digital yang perlu dilakukan oleh UMKM adalah memanfaatkan teknologi artificial intelligence guna meningkatkan efisiensi serta efektivitas kegiatan jual-beli digital, terlebih di masa pandemi seperti saat ini. Salah satu upaya yang dapat diterapkan yaitu dengan memanfaatkan layanan chatbot. Vutura tentu dapat membantu memudahkan para pemilik usaha kecil dan menengah untuk memiliki chatbot impian yang sesuai dengan bisnisnya. Lantas apa saja yang dapat dilakukan oleh chatbot untuk membantu UMKM?

Meningkatkan efektivitas layanan konsumen

Chatbot tentu saja mampu berperan dalam memudahkan proses transaksi maupun mengundang konsumen baru, sehingga para pelaku bisnis tidak perlu repot lagi untuk merespon dan memberikan layanan kepada konsumen satu persatu. Permudah layanan konsumen Anda dalam genggaman dengan menggunakan chatbot 

Dapat diakses 24/7

Konsumen tidak perlu ragu untuk menghubungi bisnis Anda pada jam tertentu. Sehingga konsumen dapat dengan mudah mencari informasi mengenai produk ataupun melakukan transaksi belanja kapanpun. Karena chatbot dapat digunakan kapan saja tanpa terpatok jam operasional bisnis Anda.

Mudah untuk digunakan

Pelaku UMKM tentu dapat dengan mudah membangun percakapan chatbot untuk bisnis tanpa perlu memahami coding. Dengan Vutura, Anda dapat dengan mudah membangun percakapan dan juga memberikan informasi yang sesuai dengan bisnis Anda hanya dengan menggunakan Dashboard Vutura.

Tunggu apa lagi? Segera daftarkan diri Anda untuk mendapatkan chatbot yang dapat mempermudah kegiatan bisnis UMKM Anda. Dengan Vutura, upaya digitalisasi bisnis akan terasa lebih mudah!

Logo Vutura

Dapatkan Chatbot Untuk Bisnis Anda Disini