Pembelajaran jarak jauh atau PJJ adalah pendidikan sistem belajar yang dilakukan oleh peserta didik dan instruktur (guru) melalui media atau biasanya sistem telekomunikasi interaktif untuk menghubungkan keduanya. Namun, ada sedikit miskonsepsi ditengah masyarakat tentang pemahaman PJJ ini.

Banyak orang yang menganggap pembelajaran jarak jauh adalah E-learning atau pembelajaran online (daring). Sebenarnya e-learning merupakan bagian dari PJJ. Pembelajaran jarak jauh tidak selalu dilakukan secara daring namun juga secara luar jaringan atau luring.

Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi

Suasana Masalah Pembelajaran Jarak Jauh di Banjar
NusaBali.com – Suasana belajar dengan fasilitas Wifi gratis di Banjar Adat Petang Gede, Desa Ubung Kaja, Denpasar Utara, Senin (20/7).

Alasan utama diimplementasikannya PJJ oleh kementrian pendidikan tidak lain adalah pandemi Covid-19. Hal ini dilakukan guna membatasi penyebaran Covid-19. Kebijakan belajar dari rumah mulai diterapkan pada tanggal 9 Maret 2020 setelah menteri pendidikan dan kebudayaan mengeluarkan surat edaran nomor 2 tahun 2020 dan nomor 3 tahun 2020 tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19.

Menteri pendidikan Nadiem Makarim sangat optimis dengan model pendidikan baru seperti PJJ. Sedikit banyak menurut Nadiem, sekarang adalah momen yang tepat untuk mengadaptasi pendidikan dengan teknologi. Eksperimen dalam jumlah besar ini kesempatan bagi banyak pihak untuk menciptakan sistem pendidikan di masa depan.

Nadiem menambahkan, PJJ ini mungkin akan permanen, namun tidak hanya pure saja namun juga hybrid. Kesempatan seperti ini tidak boleh menjadi sia-sia. Diperlukan kolaborasi yang utuh dari pemerintah, sekolah, orang tua, hingga pelajar.

Isu yang harus dihadapi oleh PJJ sekarang ini adalah aksesibilitas dari PJJ bagi semua pelajar dan guru. Pemerintah harus sadar adanya keterbatasan untuk mengakses internet, kepemilikan sarana alat, dan lain-lain. Permasalahan ini sangat fundamental yang harusnya dapat ditangani terlebih dahulu oleh institusi pembelajaran dan pemerintah.

Bagaimana PJJ dilaksanakan?

Pembelajaran jarak jauh tidak hanya berbeda dari sisi pengajar dan pembelajar berada ditempat yang berbeda namun juga memiliki sistem dan pendekatan yang berbeda. Diperlukan perencanaan, perancangan, penyusunan materi, dan komunikasi yang baru. Guru dan lembaga pendidikan harus mengembangkan dan menggunakan metodologi-metodologi dan gaya-gaya pembelajaran yang baru, mulai dari instruksi langsung hingga mengelola strategi-strategi pembelajaran, memberi dukungan terhadap peserta didik, memfasilitasi diskusi jarak jauh, serta kebutuhan setiap individu seperti fasilitas dan aksesibilitas.

Metode PJJ tidak hanya dilakukan dengan sistem e-learning namun juga dapat dilakukan secara tidak online. Metode penyampaian pembelajaran yang dapat dilakukan selama PJJ:

  1. E-learning: Pembelajaran online ini sangat tergantung dengan keberadaan internet. Dibanding dengan metode lain, pembelajaran online terasa lebih tepat dan efektif. Namun, mengharuskan pelajar dan guru untuk memiliki akses internet, perangkat seperti laptop atau smartphone, alat atau aplikasi online seperti chat room (ruang komunikasi) atau video conferencing seperti Zoom dan Google Meet. Atau dapat berupa aplikasi lain yang menyimpan video dan dapat ditonton oleh pelajar, seperti Youtube, Rumah Belajar milik Kemendikbud, dan dari swasta seperti Ruang Guru dan Quipper.
  2. Bahan tertulis: Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Plt. PAUD Dikdasmen Kemendikbud), Hamid Muhammad mengatakan, ketika pembelajaran online tidak memungkinkan solusi yang bisa dipakai adalah menggunakan buku pegangan oleh pelajar dan guru. “Entah itu bisa dipinjamkan ke kelompok belajar atau diantarkan ke rumah siswa,” ujarnya.
  3. Televisi: Selain itu, pembelajaran luring juga termasuk mengakses lewat televisi dan radio. Pendidik bisa memanfaatkan program Belajar dari Rumah lewat TVRI jika memiliki akses televisi.

Ketiga metode diatas memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Pilihan seperti buku pegangan yang diberikan oleh guru kepada murid dan televisi sangat tidak efektif, karena mengharuskan siswa untuk belajar seorang diri tanpa komunikasi dua arah. E-learning memang memiliki komunikasi yang jauh lebih baik, namun sangat tergantung kepada kepemilikan teknologi dan akses internet. Selain itu, tes dan tugas yang diberikan oleh guru saat PJJ juga hanya bekerja baik dengan e-learning.

Pembelajaran Jarak Jauh dan Marginalisasi Pendidikan

Memang PJJ dapat terlaksana dan menjadi sukses. Akan tetapi, persyaratan utama terlaksananya PJJ adalah perangkat digital (komputer, laptop, atau gawai), kuota dan jaringan internet yang memadai. Tanpa hal tersebut, PJJ jelas tidak dapat terlaksana. Jika memperhatikan kondisi Indonesia yang sangat beragam dari sisi geografis, demografi, dan kondisi sosial ekonomi penduduknya tentu pelaksanaan PJJ ini tidak bisa dilakukan dengan sembarangan.

Untuk sekolah yang memiliki kapital PJJ bukan tantangan yang besar. Sistem sekolah yang memadai, guru yang terbiasa dengan teknologi, murid yang berasal dari menengah-atas relatif sangat mudah melaksanakan PJJ. Paling tidak sekolah seperti ini semua murid dan gurunya memiliki laptop.

Masalahnya banyak sekolah yang tidak memiliki kapital. PJJ hanya akan menjadi sistem pendidikan yang memarjinalisasi mereka yang kurang mampu. Beruntung bagi mereka yang memiliki smartphone sendiri. Namun nyatanya tidak semua siswa memiliki smartphone terlebih laptop. Biasanya mereka harus meminjam smartphone orang tua mereka yang juga memerlukannya.

Data BPS (2019) menyebutkan bahwa di rentang usia 5-24 (usia sekolah) baru sekitar 53,06 siswa yang dapat menggunakan internet. Sementara dari segi pemanfaatan komputer/personal computer, 31,37 persen digunakan oleh siswa di perkotaan dan 15,43 persen di pedesaan. Tanpa kemampuan untuk mengakses internet dan alat maka PJJ secara online tidak akan bekerja. Kualitas pendidikan dikhawatirkan akan menurun jika sistem PJJ tidak dibenahi.

Solusi Pembelajaran Jarak Jauh Dengan Chatbot WhatsApp

Memecahkan masalah dari Pembelajaran Jarak Jauh akan membutuhkan kerjasama sistemik dari Pemerintah. Tanpa pemerataan fasilitas tentunya tidak banyak hal bisa dilakukan. Beberapa kelompok masyarakat juga secara swadaya memberikan fasilitas seperti wifi untuk siswa dapat belajar. Bantuan dari pihak-pihak lain juga sangat dibutuhkan.

Vutura yang berpangku semangat untuk memasyarakatkan chatbot menyadari masalah PJJ sangat krusial. Kami ingin berkontribusi untuk mencari solusi yang dapat menjadi salah satu jalan keluar untuk beberapa masalah dalam PJJ. Dalam upaya membantu meringankan beban PJJ, kami mencoba untuk membuat sistem belajar melalui chatbot yang dapat membantu para siswa untuk mengakses sumber belajar cukup dari aplikasi chat WhatsApp.

Chatbot merupakan salah satu bagian dari artificial intelligence (AI) yang digunakan untuk mengolah pesan otomatis untuk berbagai macam platform seperti website, Facebook messenger, WhatsApp, dan yang lainnya.

Pada tanggal 3 Juli 2020, Vutura mengadakan acara tertutup webinar membuat chatbot Pembelajaran Jarak Jauh dengan beberapa institusi sekolah. Diharapkan dengan kegiatan ini, sekolah-sekolah dapat memberikan solusi untuk menutup kesenjangan dalam PJJ. Selain itu, kami juga akan menggali kebutuhkan sekolah dan murid dalam melaksanakan PJJ agar dapat merealisasikannya ke dalam bentuk chatbot.

Dengan menggunakan chatbot semua materi pembelajaran dapat diakses oleh orang tua dan murid cukup melalui aplikasi perpesanan. Chatbot dapat memberikan akses yang lebih luas kepada banyak siswa tanpa harus khawatir dengan kecepatan internet. Kuota internet yang dibutuhkan pun lebih kecil dibandingkan dengan aplikasi lain. Ditambah dengan kemampuan chatbot yang dapat diakses 24/7 dapat memudahkan siswa untuk mencari bahan pembelajaran kapan saja.

Tidak sekedar dapat memberikan sumber bahan belajar siswa, chatbot juga dapat melakukan absensi, mengecek jadwal, menjawab pertanyaan siswa, dan lain-lain. Sekolah-sekolah dapat mengimplementasikan chatbot sebagai media pembelajaran yang baik untuk siswa yang tidak selalu memiliki akses internet yang memadai.