Mari bersyukur jika kita tidak tertular COVID-19, tapi ada kemungkinan kita semua terkena dampak kekacauan dalam sistem kesehatan.

Semua orang sudah mencoba yang terbaik untuk melawan penyebaran COVID-19. Masyarakat melakukan social distancing dan badan-badan terkait meluncurkan chatbot kesehatan. Pengembang AI dan chatbot berusaha membuat algoritma untuk mendeteksi COVID-19.

Meski berusaha menjadi salah satu bagian respon melawan COVID-19, tapi kita belum bisa mendiagnosa coronavirus.

Diagnosa infeksi virus COVID-19 hanya dapat dilakukan dengan melakukan tes, karena symtom saja tidak cukup. Simptom awal dari COVID-19 sangat mirip seperti flu dan demam biasa. Lebih parah lagi sekarang seperti musim flu.

Tapi, tidak mungkin semua orang yang memiliki gejala flu kita jejal ke rumah sakit. Seperti buah simalakama, melakukan itu hanya menambah beban rumah sakit dan sistem kesehatan. Kedua pilihan ini sama-sama mengakibatkan kekacauan dalam sistem kesehatan.

Dampak COVID-19 pada Layanan Kesehatan

Tigal hal yang sangat mencolok dari layanan kesehatan pada masa pandemi virus corona:

  • Kurangnya tenaga kesehatan dan alat medis
  • Rendahnya kesiapan skala internasional menghadapi pandemik
  • Koordinasi yang kurang baik antara masyarakat-pemerintah dalam menyikapi pandemi

Salah satu kurva dari Carl T. Bergstrom, a University of Washington peneliti dan ahli dalam melawan misinformasi corona virus, membantu menjelaskan keadaan layanan kesehatan dengan dan tanpa pencegahan bersama.

Bagan COVID-19 dari Carl T. Bergstrom, a University of Washington peneliti dan ahli dalam melawan misinformasi corona virus, membantu menjelaskan keadaan layanan kesehatan dengan dan tanpa pencegahan bersama.  AI chatbot kesehatan akan sangat berperan untuk mengkontrol kurva
Bagan oleh Carl T. Bergstrom

Pandemi COVID-19 yang meledak tanpa sistem mitigasi diawal menyebabkan meledaknya jumlah penyebaran virus. Penyebaran ini melebihi kemampuan layanan kesehatan untuk melayani dalam satu waktu. Kurva pertama menunjukan jika angka penyebaran yang tinggi tidak akan dapat ditangani dengan kapasitas sistem kesehatan dunia sekarang. 

Dalam skenario kurva pertama, ruang gawat darurat, unit perawatan intensif dan bagian lain dari sistem perawatan kesehatan kewalahan. Dalam lonjakan pasien, angka kematian bisa tinggi dan mereka yang terinfeksi mungkin tidak mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.

Kurva kedua, kurva yang lebih rata, menunjukan dengan adanya kontrol dalam penyebaran sangat membantu meringankan kasus dan penanganan yang lebih baik.

Tapi melihat dari kurva diatas, sangat tidak berlebihan dalam masa pandemi sistem layanan kesehatan adalah kunci untuk meminimalkan dampak. Italia dengan sistem kesehatan yang baik harus dihantam dengan lonjakan angka kasus corona di rumah sakit mereka. 

Mengutip dari New York Times, Italia harus menangguhkan semua perawatan, kecuali opersi penting, untuk memfokuskan sumber daya pada penanganan COVID-19. Tenaga kesehatan seluruh dunia harus mau tidak tidur untuk melawan pandemi.

Bukti dari penelitian Global Health Security Index, studi 195-negara menemukan keamanan kesehatan nasional menjadi “lemah secara fundamental” di seluruh dunia. Tidak ada negara yang sepenuhnya siap untuk menangani epidemi atau pandemi.

Ketidaksiapan dan rendahnya kemampuan sistem layanan kesehatan global memang bisa kita akali dengan kerjasama masyarakat dan pemerintah untuk menekan penyebaran COVID-19. Tapi, koordinasi yang baik memerlukan alur informasi yang baik pula. Maka kita harus menghadapi masalah jalur informasi yang bercabang dan kurang akurat.

Peran chatbot kesehatan saat wabah COVID-19

Meskipun belum dapat mendiagnosa virus corona, chatbot kesehatan dapat menjadi solusi dalam meringankan kekacauan saat pandemi terjadi.

Menjadi jalur singkat menghubungkan pemerintah dan masyarakat dengan menjadi sumber informasi yang terpercaya dan cepat. Dengan adanya informasi yang bisa dipercaya sangat membantu menekan kekhawatiran dan kekacauan yang terjadi. Chatbot kesehatan juga menjadi counter-narrative dari hoax yang ada di group-group perpesanan, media sosial, maupun media mainstream. 

Chatbot kesehatan dapat menjadi sumber dan pengingat cara dari penanganan penyebaran wabah. Seperti langkah menjaga kesehatan, nomor kontak darurat, symtom, bahkan membantu masyarakat dapat melaporkan dugaan corona disekitarnya.

Peranan besar chatbot kesehatan juga meringankan beban dari tenaga kesehatan. Ketika mengalami sakit chatbot dapat membantu memberikan solusi pengobatan yang tepat. Penyakit lain yang bukan corona juga harus tetap ditangani, itulah dimana chatbot kesehatan bisa menjadi jembatan bagi pasien, dokter, dan klinik untuk pengobatan tanpa harus interaksi fisik. 

Dengan meringankan kerja dari tenaga kesehatan, kita dapat menekan jumlah pasien yang berada di rumah sakit. Memastikan perawatan optimal yang sesuai dengan kapasitas kemampuan layanan kesehatan. Hal tersebut hanya bisa dilakukan dengan adanya koordinasi antara pemerintah dan masyarakat. Dalam koordinasi itu chatbot sangat berperan penting.

Baca juga bagaimana teknologi AI lain berperan ditengah COVID-19.

Coba Buat Chatbot Untuk Membantu Bisnis Ditengah Pandemi